Jumat, 16 Januari 2009

Kata dan Leksem


KONSEP KATA DAN LEKSEM

Lyons menggunakan istilah ‘leksem’ (lexeme) untuk menyebut istilah ‘kata’, sebagai satuan yang lebih abstrak yang terdapat pada bentuk-bentuk infleksional yang berbeda berdasarkan kaidah sintaksis tertentu.

Matthews membedakan pengertian kata atas beberapa pengertian. Menurut Pengertian 1, kata ialah apa yang disebut kata fonologis atau ortografis (phonological or orthographical word). Menurut pengertian 2, kata ialah apa yang disebut leksem (lexeme); dan kata menurut Pengertian 3 ialah apa yang disebut kata gramatikal (gramatical word). Kata menurut Pengertian 1 semata-mata didasarkan atas wujud fonologis atau wujud ortografisnya sedangkan menurut pengertian 2 dan 3 berhubungan dengan konsep derivasi dan infleksi. Oleh karena itu, pembicaraan tentang konsep leksem tak dapat dipisahkan dari konsep derivasi dan infleksi. Ihwal pemisahan antara derivasi dan infleksi itu sudah merupakan persoalan klasik untuk bahasa-bahasa Indo-Eropa yang memang tergolong bahasa fleksi atau infleksi; tetapi hal itu tampaknya masih meragukan untuk diterapkan pada Bahasa Indonesia (BI) yang tergolong aglutinasi. Namun dengan terdapatnya kepustakaan yang lebih mutakhir diharapkan pengetahuan yang lebih tajam untuk memahami konsep derivasi dalam kaitannya dengan infleksi dapat diterapkan pada bahasa kita.

Sehubungan dengan pernyataan di atas, secara jelas membagi morfologi atas dua bidang, yaitu morfologi infleksional (inflectional morphology), dan morfologi leksikal (lexical morphology) atau morfologi derivasional (derivational morphology). Dalam kaitan ini, Matthews membedakan antara proses infleksi dan proses pembentukan kata (word-formation). Yang terakhir itu mencakup derivasi (tipe; generate ’membangkitkan’ yang termasuk verba menjadi generation ’pembangkitan, generasi’ yang termasuk nomina) dan pemajemukan atau komposisi. Pemilahan itu mengisyaratkan bahwa yang termasuk dalam lingkup pembentukan kata ialah morfologi derivasional atau morfologi leksikal, sedangkan untuk infleksional tidak.

Morfologi leksikal mengkaji kaidah-kaidah pembentukan kata yang menghasilkan kata-kata baru secara leksikal berbeda atau beridentitas baru dibandingkan dari kata yang menjadi dasarnya. Hal itu bersesuaian dengan pernyataan Marchand ’Word formation is the branch of the science of language which studies the pattern on which a language form new lexical units, i.e. word’. Jadi, menurut Marchand pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji pola-pola dimana sebuah bahasa membentuk satuan-satuan leksikal baru, yaitu kata. Dengan demikian yang relevan bagi pembentukan kata ialah yang termasuk morfologi leksikal atau morfologi derivasional; sedangkan morfologi infleksional sebenarnya tidak termasuk ke dalam pembentukan kata yang dimaksudkan di sini karena pembentukan itu hanya menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama.

Ihwal perbedaan antara derivasi dan infleksi, Nida memberi uraian sebgai berikut:

(1) Pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata tunggal (yang termasuk sistem jenis kata tertentu) (misalnya, singer ‘penyanyi’ (nomina), dari verba (to) sing ‘menyanyi’, termasuk jenis kata yang sama dengan kata boy ‘anak laki-laki’), sedangkan pembentukan infleksional tidak (misalnya, verba polimorfemis walked tidak termasuk beridentitas sama dengan verba monomorfemis yang manapun juga dalam sistem morfologi bahasa Inggris).

(2) Secara statistik, afiks derivasional lebih beragam (misalnya, dalam bahasa Inggris terdapat afiks-afiks pembentuk nomina seperti; -er, -ment, -ion, -ation, -ness, (singer, arrangement, correction, nationalization, stableness), sedangkan afiks infleksional dalam bahasa Inggris kurang beragam (-s (dengan segala variasinya), -ed1, -ed2, -ing; work, worked1, worked2. working).

(3) Afiks-afiks derivasional dapat mengubah kelas kata, sedangkan afiks infleksional tidak.

(4) Afiks-afiks derivasional mempunyai distribusi yang lebih terbatas (misalnya, afiks derivasional –er diramalkan tidak selalu terdapat pada dasar verba untuk membentuk nomina), sedangkan afiks infleksional mempunyai distribusi yang lebih luas.

(5) Pembentukan derivasional dapat menjadi dasar bagi pembentukan berikutnya (sing (V) → singer (N) → singers (N)), sedangkan pembentukan infleksional tidak.

Dalam pada itu, Verhaar menyatakan bahwa semua perubahan afiksasi yang melampaui identitas kata disebut derivasi, sedangkan yang mempertahankan identitas disebut infleksi. Prinsip yang diikuti ialah setiap pembentukan yang menghasilkan jenis kata baru (pembentukan derivasional) selalu berarti pula perpindahan identitas leksikalnya (menulis (V) → Penulis (N); tetapi tidak sebalikya, setiap perpindahan identitas leksikal berarti pula perpindahan jenis kata. Misalnya, verba berangkat dan memberangkatkan. Verba memberangkatkan dibentuk dari berangkat. Sekalipun kedua kata itu sama-sama termasuk verba, namun kedua-duanya memiliki identitas leksikal yang berbeda. Verba berangkat termasuk intransitif, sedangkan memberangkatkan termasuk transitif. Karena identitas leksikalnya berbeda maka referennya juga berbeda. Hal serupa juga dapat dilihat pada contoh lurahkelurahan atau professor → professorship. Sekalipun kata-kata lurah dan kelurahan serta professor dan professorship sama-sama termasuk nomina, namun kata-kata ini memiliki identitas leksikal yang berbeda. Hal itu diketahui berdasarkan tes dekomposisi leksikal sebagaimana diusulkan Verhaar atau berdasarkan penguraian fitur semantiknya. Nomina lurah dan professor masing-masing berciri semantik bernyawa (animate), manusia (human), sedangkan kelurahan dan professorship berciri semantik tak bernyawa (inanimate), bukan manusia (nonhuman). Uraian yang diberikan Verhaar itu pada dasarnya juga bersesuaian dengan uraian yang diberikan oleh Bauer dan juga Matthews.

Bauer dan juga Matthews melengkapi uraiannya dengan seperangkat kriteria operasional untuk membedakan derivasi dan infleksi. Bauer menyatakan bahwa derivasi adalah proses morfemis yang menghasilkan leksem baru, sedangkan infleksi ialah proses morfemis yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Atau, menurut rumusan Marchand, morfem afiks infleksional membentuk bentuk-bentuk kata yang berbeda dari sebuah kata yang sama, tidak membentuk sebuah leksikal baru. Dengan demikian, afiks infleksional tidak relevan bagi pembentukan kata. Dengan rumusan lain, pembentukan infleksional menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dalam sebuah paradigma, sedangkan pembentukan derivasional menghasilkan kata yang termasuk paradigma yang berbeda. Hal itu dapat dicontohkan sebagai berikut:

(I) work

(He) works

(They) worked 1

(I have) worked 2

(He is) working

WORK

Bentuk-bentuk word, works, worked, working adalah bentuk-bentuk yang berbeda dari leksem yang sama, yaitu WORK (leksem dilambangkan/dituliskan dengan huruf besar). Morfologi yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kata tersebut termasuk infleksional. Dari leksem WORK dapat dibentuk leksem baru WORKER yang termasuk nomina. Pembentukan kata dari WORK → WORKER itu disebut derivasional. Jadi, berdasarkan kaidah-kaidah gramatikal yang teramalkan dapat dinyatakan bahwa leksem WORK dapat berwujud work, works, worked1, worked2, atau working. Demikian pula dari leksem WORKER dapat diramalkan hadirnya bentuk-bentuk kata worker dan workers seperti halnya dari leksem BOY dapat diramalkan hadirnya bentuk-bentuk kata boy dan boys. Jadi, paradigma seperti work, works, worked1, worked2, working atau paradigma seperti worker, workers masing-masing termasuk paradigma infleksional. Bedanya, yang pertama terdapat dalam paradigma verba dan yang kemudian terdapat dalam paradigma nomina.

Ciri keteramalan atau yang bersifat otomatis pada pembentukan infleksional sangat ditekankan baik oleh Aronoff maupun oleh Bauer. Maksudnya, setiap dasar verba bahasa Inggris akan mengalami paradigma infleksional sperti pada leksem WORK tersebut sekalipun secara permukaan bentuknya bervariasi. Hal serupa dapat dijumpai pada bahasa Indonesia. Setiap dasar V yang termasuk transitif diramalkan memiliki bentuk-bentuk meng-D, di-D, kau-D, kadang-kadang ter-D (D:dasar) berdasarkan kaidah yang dapat diterangkan. Misalnya dasar pukul atau tulis diramalkan memiliki bentuk-bentuk kata:

(Saya) memukul (dia) atau menulis (surat)

(Saya) dipukul (-nya) atau (surat) ditulis (-nya)

(Dia) kupukul atau (surat) kutulis

(Dia) kaupukul atau (surat) kautulis.

Munculnya bentuk memukul/menulis adalah kalu subjek (S) berperan pelaku (agen) atau kalimat itu berfokus pelaku; munculnya bentuk dipukul/ditulis dan kupukul/kutulis atau kaupukul/kautulis manakala S berperan bukan sebagai pelaku atau barangkali sebagai pasien (berfokus pasien). Munculnya benuk ku-D adalah manakala pelaku orang pertama, bentuk kau-D manakala pelaku orang kedua dan munculnya di-D manakala pelaku perbuatan netral terhadap orang pertama atau orang kedua. Munculnya bentuk ter-D bersifat tak teramalkan karena kendala semantik.

Berbeda dari pembentukan infleksional, pembentukan derivasional bersifat tak teramalkan. Bagaimanapun juga diakui terdapatnya sifat idiosinkretis (keanehan-keanehan, tak pasti) pada pembentukan derivasional. Misalnya, meskipun terdapat pola pembentukan WORK: WORKER, WRITE: WRITER, SPEAK: SPEAKER tetapi tidak terdapat AGREE; *AGREER. Demikian pula terdapat keanehan semantik pada pembentukan derivasional. Misalnya, kata worker di samping berarti ’orang yang bekerja’ juga dapat berarti ’buruh, karyawan’.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap proses morfologis yang menghasilkan kata yang secara leksikal beridentitas baru dianggap sebagai pembentukan derivasional. Misalnya, kata-kata penulis, tulisan, dan penulisan yang memiliki morfem dasar tulis harus dimasukkan sebagai pembentukan derivasional berdasarkan referennya maupun berdasarkan fitur-fitur semantiknya. Perhatikan pula penegasan Spencer, ’Since inflected forms are just variants of one and the same word, inflecting a word shouldn’t cause it to change it’s category. … derivation (…) includes a change in syntactic category’.

Berdasarkan uraian di atas pula dapat disimpulkan bahwa leksem adalah satuan lingual hasil abstraksi dari sebuah paradigma; atau, leksem adalah satuan abstrak dan satuan terkecil dari sebuah paradigma. Leksem merupakan satuan fundamental dari lesikon sebuah bahasa. Leksem sebagai satuan dasar dalam leksikon yang berbeda dengan kata sebagai sartuan gramatikal.Dengan kata lain, sebagai satuan abstrak terkecil leksem dapat diwujudkan dalam bentuk kata gramatikal dalam sebuah paradigma. Misalnya, WRITER dapat berwujud kata gramatis writer atau writers. Dalam paradigma tersebut, leksem WRITER tetap merupakan satuan terkecil.

Menurut Harimurti Kridalaksana, leksem adalah: 1. Satuan leksikal dasar yang abstrak yang mendasari berbagai bentuk inflektif suatu kata, contoh: sleep, slept, sleeps, sleeping bentuk leksem dari SLEEP; 2. Kata atau frase yang merupakan satuan bermakna; satuan terkecil dari leksikon.Sedangkan kata adalah: 1. Morfem atau kombinasi morfem yang oleh bangsawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; 2. Satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri yang terjadi dari morfem tunggal, misalnya: batu, rumah, datang dan gabungan morfem, misalnya: pejuang, mengikuti, parasut. Menurut Ramlan kata ialah satuan bebas yang paling kecil, contoh: rumah, duduk, penduduk, pendudukan.Dalam hal ini Ramlan tidak menggunakan istilah leksem.

Menurut Hocket, afiks juga leksem yang lalu membagi leksem atas leksem gramatikal, leksem leksikal, dan leksem semantik. Sedangkan kata adalah suatu kesatuan yang dapat dianalisis atas komponen-komponen yang disebut morfem. Dalam hirarki gramatikal merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui proses morfologis.Di dalam kata ada 2 jenis morfem, yaitu:

1. Morfem leksikal, yang makna dan bentuknya sedikit banyak sama dengan leksem; dan

2. Morfem gramatikal yang satuan pembentuk kata yang sedikit banyak menyebabkan leksem itu mempunyai makna gramatikal.

Skema terbentuknya kata:Leksem → Proses Morfologi → Kata

Bahan dasar kata ialah leksem, dan karena proses itu menyangkut pembentukan kata, maka subsistem itu disebut morfologi leksikal atau morfologi derivatif.

Proses Morfologi yang kita kenal:

1. Derivasi zero

2. Afiksasi

3. Reduplikasi

4. Revendikasi

5. Derivasi balik

6. Perpaduan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar