Jumat, 16 Januari 2009

Pembelajaran Kata Ulang (Reduplikasi)

REDUPLIKASI

DALAM BAHASA INDONESIA

A. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah

Salah satu proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia adalah reduplikasi atau pengulangan. Hasil dari proses tersebut dinamai kata ulang. Kata-kata seperti: meja-meja, pengusaha-pengusaha, berlari-lari, menari-nari, kemerah-merahan, dan rerumputan adalah kata ulang. Untuk membuktikan bahwa kata-kata tersebut hasil proses reduplikasi tidaklah sukar karena kata-kata itu dapat dikembalikan ke dasar ulangnya, yakni meja, pengusaha, berlari, tamu, menari, merah, dan rumput, yang masing-masing adalah kata dalam bahasa Indonesia.

Permasalahan yang kemudian muncul adalah apakah kata-kata seperti kura-kura, pura-pura, biri-biri, cumi-cumi, rempah-rempah, onde-onde, dan pundi-pundi dapat dikembalikan ke ”dasar” pengulangannya? Apakah benar bila dikatakan bahwa ’dasar’ pengulangan (kura, pura, biri, cumi, rempah, onde, pundi, dan sebagainya) tersebut adalah kata? Dengan kata lain, apakah pura-pura, biri-biri, cumi-cumi, rempah-rempah, onde-onde, dan pundi-pundi mengalami proses morfologis juga seperti halnya proses morfologis pada kata orang-orang, pengusaha-pengusaha, berlari-lari, menari-nari, kemerah-merahan, dan rerumputan? Dalam komunikasi sehari-hari kita sering menggunakan atau mendengar pengulangan jauh-jauh pada kalimat: Jauh-jauh, didatangi juga rumah kekasihnya itu. Contoh lain adalah asam-asam pada kalimat Asam-asam, dimakannya juga buah itu. Atau mentah-mentah pada kalimat Mentah-mentah dimakannya juga ikan itu. Pertanyaannya adalah apakah pengulangan jauh-jauh, asam-asam, dan mentah-mentah pada kalimat-kalimat tersebut sejenis dengan contoh pengulangan orang-orang?

Kita juga sering menggunakan atau mendengar pengulangan kuda-kuda pada kalimat Ia memasang kuda-kuda dengan penuh semangat agar bisa memenangi lomba itu; atau mata-mata pada kalimat Sudah lama ia terpaksa menjadi mata-mata musuh demi keselamatan diri dan keluarganya. Apakah kuda-kuda dan mata-mata pada kalimat-kalimat tersebut berproses morfologis sama dengan proses morfologis pada kuda-kuda dan mata-mata pada kalimat: Ia segera memasukkan kuda-kuda itu ke kandang dan Dokter itu menyimpan mata-mata dari para pendonor mata ke dalam sebuah tempat steril.Selain itu, akan timbul berbagai pertanyaan pula pada diri kita bahwa kata berlari-lari, membagi-bagikan, dan sebaik-baiknya berasal dari leksem apakah? Dari leksem berlari, lari, atau lari-lari? Dari leksem membagi, bagi, atau bagi-bagi? Demikian juga, kata sebaik-baiknya berasal dari leksem baik atau baik-baik? Bagaimana proses morfologis ketiga contoh kata ulang itu?

b. Permasalahan

Berdasarkan berbagai data linguistik di atas, di dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa permasalahan, yaitu ciri bentuk dan makna kata ulang, serta proses morfologis kata ulang berafiks dalam bahasa Indonesia.

B. Pembahasan

a. Ciri Bentuk Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia

Di dalam bahasa Indonesia kita Kridalaksana (2007) menggolong-golongkan reduplikasi atas reduplikasi fonologis, morfemis, dan sintaksis, Sedangkan Chaer (1998) menambahkan dua reduplikasi lagi, yaitu reduplikasi semantis dan idiomatis. Selain itu, Kridalaksana juga menggolongkan reduplikasi atas dwipurwa, dwilingga, dwilingga salin suara, dwiwasana, dan trilingga (2007). Berikut penjelasan jenis-jenis reduplikasi tersebut.

Reduplikasi Fonologis

Di dalam reduplikasi fonologis tidak terjadi perubahan makna, karena pengulangannya hanya bersifat fonologis artinya bukan atau tidak ada pengulangan leksem. Bentuk-bentuk dada, pipi, kuku, paru-paru, dan sebagainya, termasuk bentuk reduplikasi fonologis, karena bentuk-bentuk tersebut di atas bukan berasal dari leksem *da, *pi, *ku dan *paru. Dengan perkataan lain, tidak ada leksem *da, *pi, *ku, dan *paru.

Perilaku morfologis bentuk reduplikasi fonologis perlu dicatat di sini, walaupun tidak mudah diterangkan. Ada bentuk cincin-cincin dan sisi-sisi, tetapi bentuk *paru-paru – paru-paru dan *onde-onde – onde-onde tidak terterima; sedangkan tentang bentuk seperti pipi-pipi, dada-dada ada bahasawan yang menerimanya, ada yang menolaknya.

Reduplikasi Morfemis

Dalam reduplikasi morfemis terjadi perubahan makna gramatikal atas leksem yang diulang, sehingga terjadilah satuan yang berstatus kata.

1) Reduplikasi pembentuk verba

a) dwilingga V → V ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Jangan bongkar-bongkar lagi, semua sudah teratur rapi.

b) dwilingga V → V ’sambil lalu, kurang sungguh-sungguh (deintesif)’

Contoh: Jangan bawa-bawa nama saya dalam perkara ini.

c) dwilingga N → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Kami cuma keliling-keliling di kebun teh.

d) kombinasi me- + R V → V ’sunguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Tina, jangan suka mengada-ada. Lama kelamaan tidak ada orang yang mempercayaimu lagi.

e) kombinasi me- + R Adv → V ’sambil lalu, kurang sungguh-sungguh (deintensif)’

Contoh: Kalau ada orang yang menawar, maka ia akan mengagak-agak harga rumahnya.

f) kombinasi me- + R N → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Anjing itu mencakar-cakar pintu rumah minta dibukakan pintu.

g) kombinasi di- + R V → V ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Jangan diangkat-angkat lagi barang yang sudah kuletakkan itu.

h) kombinasi di- + R N → V ’berkali-kali’ (iteratif)’

Contoh: Habis sudah majalah ini digunting-gunting oleh adikmu.

i) kombinasi ber- + R Adv → V ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Ia beragak-agak mengenai kebenaran peristiwa ini.

j) kombinasi ber- + R V → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Dahulu kala nenek moyang kita hidupnya berpindah-pindah.

k) kombinasi ber- + R A → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Kami melihat sebuah helikopter berpusing-pusing di atas lokasi kecelakaan.

l) kombinasi ber- + R N → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Jangan berbisik-bisik, bicara yang keras.

m) kombinasi ter- + R V → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Barang itu cepat rusak karena sering terbanting-banting.

n) kombinasi ter- + R N → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Mereka tertawa-tawa setelah mendengar berita kemenangannya.

o) kombinasi ter- + R A → V ’sungguh-sungguh (deintesif)’

Contoh: Pria ini selalu tergila-gila pada wanita bermata biru.

p) kombinasi me- + R + -kan V → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Ia membetul-betulkan letak topinya yang sudah betul itu.

q) kombinasi di- R + -kan V → V ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Ceritanya itu hanya diada-adakan, jangan percaya.

r) konfiks R + -an V → V ’berbalasan (resiprokal)’

Contoh: Kedua kakak beradik itu sering bermain cubit-cubitan.

s) konfiks R + -an V → V ’sambil lalu, kurang sunguh-sungguh (deintensif)’

Contoh: Adik suka tidur-tiduran di lantai.

t) konfiks R + -an Num → V ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Pasangan yang sedang mabuk cinta itu dua-duaan saja.

u) konfiks V → V ’berbalasan (resiprokal)’

Contoh: Pada hari Natal para kenalan antar-mengantar hadiah.

v) konfiks ber- + R + -an N → V → V ’berbalasan, sunguh-sungguh (resiprokal, intensif)’

Contoh: Rama dan Sinta sedang bercinta-cintaan di taman

w) konfiks ber- + R + -an V → V ’berbalasan, sungguh-sungguh (resiprokal, intensif)’

Contoh: Kedua anak itu berpukul-pukulan memperebutkan sebatang coklat.

2) Reduplikasi pembentuk ajektiva

a) dwilingga A → A ’yang mempunyai sifat itu lebih dari satu’

Contoh: Murid sekolah itu kaya-kaya tetapi tidak sombong.

b) dwilingga A → A ’pasti (iteratif)’

Contoh: Ia anak baik-baik.

c) dwilingga + -an A → A ’berkali-kali (iteratif)’

Contoh: Karena sudah tua ia sakit-sakitan.

d) dwilingga + -an N → A ’ketidakpastian’

Contoh: Kamu tidak boleh mengerjakan soal ujian itu secara untung-untungan.

e) dwilingga + -an A → A ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Keadaan rumah itu acak-acakan setelah ditinggal penghuninya selama satu tahun.

f) dwilingga + -an V → A ’tidak sungguh-sungguh’

Contoh: Belajarnya ogah-ogahan, bagaimana bisa dapat angka bagus?

g) dwilingga salin swara – ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Dia lari pontang-panting dikejar anjing gila.

h) konfiks R + infiks V → A

Contoh: Keris ini pusaka turun-temurun keluarga kami.

3) Reduplikasi pembentuk nomina

a) dwilingga N → N ’jamak’

Contoh: ­­­Pohon-pohon di sepanjang sungai Batanghari sangat rimbun.

b) dwilingga salin swara N → N ’bermacam-macam’

Contoh: Penduduk desa itu bertanam sayur-mayur.

Pakaiannya yang warna-warni itu mengundang perhatian orang.

c) dwilingga salin swara Adv → N ’bermacam-macam’

Contoh: Acara serba-serbi pengetahuan di radio swasta itu paling banyak peminatnya.

d) dwilingga salin swara V → N ’bermacam-macam’

Corat-coret di tembok memberi kesan lingkungan yang kotor.

e) dwipurwa N → N ’jamak’

Contoh: Dedaunan pohon itu layu karena kepanasan.

f) dwipurwa N → N (makna tidak berbeda)

Contoh: Tetangga kami akan mengadakan pesta selamatan..

g) konfiks R + infiks N → N ’variasi’

Contoh: Jari-jemarinya amat lentik.

h) konfiks dwipurwa + -an V → N ’segala macam’

Contoh: Dukun sakti membuat reramuan dari daun-daunan.

i) konfiks R –an V → N ’segala macam yang di-’

Contoh: Tanam-tanaman di depan rumahmu sangat indah.

j) konfiks R –an A → N ’segala macam yang di-’

Contoh: Ani sangat menyukai manis-manisan yang dijual di toko itu.

k) dwilingga A → N ’bermacam-macam’

Ia menjelaskan pelik-pelik bahasa Indonesia dengan panjang lebar.

l) dwipurwa A → N ’yang dianggap’

Contoh: Leluhur bangsa Indonesia adalah orang-orang pemberani.

4) Reduplikasi pembentuk pronomina

a) dwilingga1 Pr → Pr ’dramatisasi’

Contoh: Kami-kami ini biasanya makan di warung tegal.

b) dwilingga2 Pr → Pr ’meremehkan (negatif)’

Contoh: Dia-dia saja yang menjadi ketua kelompok.

5) Reduplikasi pembentuk adverbia

a) dwilingga N → Adv ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Ia berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.

b) dwilingga Pr → Adv ’berulang-ulang (frekuentatif)’

Contoh: Kami berjanji untuk pergi le pesta sendiri-sendiri.

c) dwilingga Num → Adv ’berulang-ulang (frekuentatif)’

Contoh: Kerjakan tiga-tiga supaya cepat selesai.

d) dwilingga A → Adv ’sungguh-sungguh’

Contoh: Bicaralah baik-baik, pasti dia akan memaklumi persoalanmu.

e) dwilingga V → Adv ’ketidakpastian’

Contoh: Umurnya kira-kira 35 tahun.

f) dwilingga Adv → Adv ’dengan sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Hampir-hampir saja ia tertabrak oleh sebuah mobil.

g) dwilingga Adv → Adv ’berkali-kali (intensif)’

Contoh: Lagi-lagi ia mengulangi perbuatannya yang menyakiti hati kedua orang tuanya.

h) dwiwasana Num → Adv ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Jangan sekali-kali kau masuk ke kamarku.

i) dwiwasana Adv → Adv ’sungguh-sungguh (intensif)’

Contoh: Dia meniti jembatan itu dengan perlahan-lahan.

6) Reduplikasi pembentuk interogativa

R + -an Int → Int ’keheranan’

Contoh: Apa-apaan kamu datang ke rumah saya begini malam.

7) Reduplikasi pembentuk numeralia

konfiks ber- + R Num → Num ’beberapa’

Contoh: Berpuluh-puluh mahasiswa berkumpul depan kantor rektor untuk mengadakan aksi unjuk rasa.

Reduplikasi Sintaksis

Reduplikasi sintaksis adalah proses yang terjadi atas leksem yang menghasilkan satuan yang berstatus klausa, jadi berada di luar cakupan morfologi. Contoh:

- Jauh-jauh, didatangi juga rumah sahabat lamanya itu.

- Asam-asam, dimakannya juga mangga itu.

Reduplikasi Semantis

Bentuk-bentuk seperti cerdik pandai, semak belukar, arif bijaksana, segar bugar, dan tutur kata tidak termasuk kata ulang, sebab tidak ada bedntuk dasar yang diulang.Yang terjadi adalah dua buah kata yang sama maknanya digabungkan menjadi sebuah kata gabung. Karena kedua kata yang digabungkan itu sama maknanya, maka bentuk-bentuk tersebut disebut reduplikasi semantis (Chaer, 1998: 297)

Reduplikasi Idiomatis

Terdapat sejumlah kata ulang yang tidak bermakna gramatikal seperti contoh-contoh sebelumnya. Yang dimilikinya adalah makna idiomatis (makna ungkapan), sehingga untuk mengetahui maknanya kita harus mencarinya di dalam kamus. Contoh: jangan-jangan, kalau-kalau, tidak-tidak, bukan-bukan, apa-apa, hati-hati, tupai-tupai, main-main, guna-guna, oleh-oleh (Chaer, 1998: 298)

Dwipurwa

Dwipurwa adalah pengulangan suku pertama pada leksem dengan pelemahan vokal. Contoh: tetangga, lelaki, tetamu, sesama

Dwilingga

Dwilingga adalah pengulangan leksem. Contoh: rumah-rumah, makan-makan, pagi-pagi.

Dwilingga salin suara

Dwilingga salin suara adalah pengulangan leksem dengan variasi fonem. Contoh: mondar-mandir, pontang-panting, bolak-balik, corat-coret.

Dwiwasana

Dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang dari leksem. Contoh: pertama-tama, perlahan-lahan, sekali-kali

Trilingga

Merupakan pengulangan onomatope tiga kali dengan variasi fonem. Contoh: cas sis-cus, dag-dig-dug, ngak-ngek-ngok,dar-der-dor

b. Ciri Makna Kata Ulang dalam Bahasa Indonesia

Sudah disebutkan di atas, bahwa dalam reduplikasi morfemis terjadi perubahan makna gramatikal. Dari sudut pandang yang lain, dalam hal ini dilihat dari sudut semantis, dapat dibedakan reduplikasi morfemis yang bersifat non-idiomatis dan bersifat idiomatis. Jelas bahwa reduplikasi non-idiomatis menyangkut reduplikasi yang makna leksikal dari bentuk dasarnya tidak berubah. Reduplikasi idiomatis adalah reduplikasi yang maknanya tidak sama dengan makna leksikal komponen-komponennya. Dalam bahasa Indonesia jumlahnya memang tidak terlalu banyak; beberapa contoh di antaranya ialah hati-hati, kuda-kuda, mata-mata, dan otak-otak.

Seperti halnya afiksasi, pemberian pertanda-pertanda reduplikasi dilakukan dengan memadukan kelas atau perubahan kelas leksem dan makna gramatikal; dan makna gramatikal diungkapkan secara impresionistis, sebagaimana dipraktikkan dalam tata bahasa tradisional.

c. Proses Morfologis Kata Ulang Berafiks dalam Bahasa Indonesia

Apabila dibandingkan dengan kata-kata ulang yang sudah dibicarakan di depan, terdapat perbedaan yang cukup menentukan. Bahkan (unsur) yang akan diolah/proses oleh reduplikasi penuh, reduplikasi parsial, dan reduplikasi berubah bunyi, masing-masing hanya dua buah, yakni (1) dasar ulang, dan (2) R- (reduplikasi/pengulangan)-nya. Pada reduplikasi yang disertai pengafiksan unsur yang diproses ada tiga buah, yaitu (1) dasar ulang, (2) R, dan (3) afiks, dan secara serentak membentuk kata ulang berafiks tersebut.

Sebagai contoh kita ambil kata: pohon-pohonan, yang bermakna ’berbagai macam pohon’. Lewat makna tersebut kita tahu bahwa:

(1) dasar ulangnya adalah pohon; yang tinggal adalah bentuk pohonan; kalau R-nya tidak mungkin melebihi dasar ulangnya, berarti

(2) R-nya: pohon; tinggal unsur –an

(3) -an merupakan sufiksnya.

Apabila analisis itu disusun ke bawah, mungkin lebih mudah dipahami.

pohon-pohonan : berbagai macam pohon

dasar ulangnya : pohon

R-nya : pohon

sufiks : -an

Jadi, pohon-pohonan termasuk kata ulang berafiks, hasil proses reduplikasi disertai pengafiksan.

Apakah proses reduplikasi yang disertai pengafiksan ini dapat juga membentuk kelas kata tertentu, agar penyebutannya lebih ringkas dan praktis, proses reduplikasi yang disertai pengafiksan ini disingkat reduplikasi + afiks.

1) Reduplikasi + afiks pembentuk nomina

a) Senjata yang dibawa perampok itu ternyata hanya pistol-pistolan.

b) Meskipun kuda-kudaannya hanya dibuat oleh pelepah pisang, si Budi tampak puas sekali.

c) Siapkan obat-obatan secukupnya agar tidak disalahkan oleh peserta piknik.

d) Setelah berlari-lari kucing-kucingan dengan polisi, akhirnya penjahat yang meresahkan itu ditangkap tanpa melawan.

e) Bergudang-gudang gula dikosongkan, kemudian bersama-sama dengan berton-ton beras dilemparkan ke pasar untuk menekan kenaikan harga.

f) Daerah yang bergunung-gunung dan berbatu-batu seperti inilah yang disukai anak-anak muda untuk berlatih mengendarai motor.

2) Reduplikasi + afiks pembentuk verba

a) Kakak beradik itu berpeluk-pelukan sambil menangis kegirangan karena hampir sepuluh tahun berpisah tanpa ada kabar.

b) Anak-anak TK senang berayun-ayunan di taman yang sudah disediakan.

c) Upacara ini sudah turun-temurun sejak ratusan tahun yang lalu.

3) Reduplikasi + afiks pembentuk ajektiva

a) A → A

(1) Upacara pernikahan anak tunggalnya diselenggarakan secara besar-besaran.

(2) Dengan terang-terangan mereka menentang kebijaksanaan atasannya yang dirasa sangat memberatkannya.

(3) Jangan gila-gilaan di kampung sini, atau jangan tingal disini.

b) N → A

(1) Si Nani itu pintar, tidak banyak tingkah, dan sifat keibu-ibuannya sangat menonjol.

(2) Pada zaman penjajahan Belanda bangsa kita banyak yang kebelanda-belandaan; lebih belanda daripada yang Belanda.

(3) Dia sudah tamat SMU, tetapi sifatnya masih kekanak-kanakan.

4) Reduplikasi + Afiks Pembentuk Numeralia

a) Diperkirakan orang-orang yang mudik lebaran tahun 1997 ada berpuluh-puluh juta jumlahnya.

b) Setelah diadakan perhitungan pedagang batik itu baru tahu bahwa ada berlembar-lembar batik halus dicopet orang.

5) Reduplikasi + Afiks Pembentuk Adverbia

a) V → Adv

(1) Dia sudah merasa belajar mati-matian, tetapi hasilnya tidak pernah memuaskan.

(2) Kami sudah berusaha habis-habisan; kalau toh tidak berhasil juga, apa boleh buat.

b) A → Adv

Mudah-mudahan Anda selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengenai kata ulang berafiks ini ada sekelompok kata yang perlu diperbincangkan, yakni kelompok: bergunung-gunung, berbatu-batu, berbukit-bukit, berawa-rawa, dan mungkin masih ada yang lain lagi.

Kata-kata tersebut dapat dianalisis dengan dua cara, yang hasilnya ternyata tidak sama meskipun keduanya dapat diterima sebagai kata ulang berafiks.

1) bergunung-gunung = terdiri dari gunung-gunung bentuk dasarnya

(bukan dasar ulang ) : gunung-gunung

prefiks : ber-

Jadi, kata tersebut adalah kata ulang berafiks dalam arti kata ulangnya sudah ada, baru terjadi proses afiksasi. Dalam Situmorang kata ulang ramah-tamah yang dibentuk dengan konfiks ke-an ---keramahtamahan, haru-biru --- tetap disebut kata ulang juga.

2) bergunung-gunung = ’terdiri dari banyak gunung’

dasar ulangnya : gunung

R-nya : gunung

prefiks : ber-

Jadi, bergunung-gunung tergolong kata ulang berprefiks.

Dengan kenyataan seperti analisis no. I di atas, bahwa kata ulang yang dibubuhi afiks adalah kata ulang juga, maka kata ulang hasil proses reduplikasi yang disertai pengafiksan dapat dibedakan atas dua golongan.

Golongan I : dasar ulang, R, dan afiks secara serentak membentuk kata ulang berafiks: orang-orangan, berpeluk-pelukan, besar-besaran, kekanak-kanakan, dan sebagainya; dan

Golongan II : kata ulang + afiks menghasilkan kata ulang berafiks: bergunung-gunung, berawa-rawa, keramah-ramahan, kekacaubalauan, dan sebagainya.

Pada contoh pembentukan kata ulang di atas terlihat adanya proses reduplikasi yang meneyebabkan kelas katanya berubah. Proses reduplikasi yang mengakibatkan kelas katanya berubah disebut reduplikasi derivasional, sedangkan yang tidak dinamai proses reduplikasi infleksional.

Dalam komunikasi sehari-hari kita menjumpai bentukan pepohonan, dedaunan, rerumputan ,bebatuan, dan kelayuan. Lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.

a) Waktu terjadi angin puting beliung di daerahku, pepohonan banyak yang tumbang, dan dedaunan berguguran memenuhi halaman dan jalan-jalan.

b) Pada zaman maju ini bukan hanya rerumputan taman yang diperdagangkan, bebatuan pun diperjualbelikan dengan harga yang tak terjangkau oleh golongan menengah ke bawah.

c) Kekurangan nenek moyang kita yang ahli di bidang obat-obatan tradisional adalah tidak pernah dimilikinya resep reramuan obat dan daftar akar-akaran, daun-daunan, serta kekayuan yang dapat dijadikan obat.

Makna kata-kata ulang parsial berimbuhan tersebut sama benar dengan kata ulang berafiks yang dasar ulangnya sama. Jadi,

pepohonan = pohon-pohonan; bebatuan = batu-batuan;

dedaunan = daun-daunan; rerumputan – rumput-rumputan;

kekayuan = kayu-kayuan

Karena maknanya sama, dasar ulang untuk kata ulang yang berpasangan itu tentu juga sama. Satu-satunya yang berbeda hanyalah R-nya karena afiksnya pun sama. Justru R-nya itulah yang membedakan proses reduplikasi yang satu dengan yang lain sehingga penulis memunculkan sebagai jenis kata ulang tersendiri.

Secara lebih sederhana Chaer menjelaskan proses morfologis kata ulang berafiks ini sebagai berikut.

a) Sebuah kata dasar mula-mula diberi imbuhan, kemudian baru diulang. Misalnya kata dasar atur, mula-mula diberi sufiks –an sehingga menjadi aturan. Kemudian kata aturan ini diulang sehingga menjadi aturan-aturan. Contoh lain: bangunan-bangunan, kegiatan-kegiatan, pemimpin-pemimpin, pembongkaran-pembongkaran, peraturan-peraturan.

b) Sebuah kata dasar mula-mula diulang, kemudian baru diberi imbuhan. Misalnya kata lari mula-mula diulang sehingga menjadi lari-lari. Kemudian lari-lari diberi prefiks ber- sehingga menjadi berlari-lari. Contoh lain misalnya melihat-lihat, melompat-lompat, membolak-balik.

c) Sebuah kata dasar mula-mula diulang dan sekaligus diberi imbuhan. Umpamanya pada kata dasar hari sekaligus diulang dan diberi prefiks ber- sehingga menjadi bentuk berhari-hari. Contoh lain misalnya berton-ton, bermil-mil, bermeter-meter, berkubik-kubik, berbulan-bulan.

Kridalaksana menjelaskan proses morfologis reduplikasi ini sebagai berikut.

a) Mula-mula sebuah leksem mendapatkan afiksasi tertentu (misalnya prefiks-) sehingga terbentuklah sebuah kata, kemudian kata tersebut diulang sehingga terbentuklah kata ulang berafiks. Contoh: jalan mendapatkan prefiks ber-, sehingga terbentuk kata berjalan, kemudian kata berjalan diulang, maka terbentuklah kata berjalan-jalan.

b) Mula-mula sebuah leksem diulang, sehingga terbentuklah sebuah kata ulang, lalu kata ulang ini mengalami afiksasi sehingga terbentuklah kata ulang berafiks. Contoh: kata cepat diulang, sehingga menjadi cepat-cepat, lalu kata ulang cepat-cepat tersebut mendapatkan afiks se-nya, sehingga terbentuklah kata ulang berafiks secepat-cepatnya.

c) Mula-mula sebuah leksem mengalami afiksasi , sehingga terbentuklah kata, lalu kata tersebut mengalami reduplikasi, maka terbentuklah kata baru, kata tersebut mengalami afiksasi lagi sehingga terbentuklah kata ulang berafiks. Contoh: kata bagi mendapatkan prefiks me- menjadi membagi, lalu kata membagi mengalami reduplikasi menjadi membagi-bagi, selanjutnya membagi-bagi mendapatkan sufiks –kan, maka terbentuklah kata ulang berafiks membagi-bagikan.

C. Simpulan

Reduplikasi adalah salah satu cara untuk membentuk kata dalam bahasa Indonesia di samping afiksasi dan komponisasi. Proses reduplikasi bisa berlangsung apabila ada kata yang menjadi dasar ulangannya. Jadi, yang menjadi dasar ulang harus kata. Apabila dasar ulang tersebut sudah diproses dengan reduplikasi, terbentuklah satu kata yang disebut kata ulang. Berarti pada kata ulang tersebut terdapat pengulangan.

Setiap linguis menggolong-golongkan proses reduplikasi ke dalam jenis yang berbeda-beda. Namun, perbedaan tersebut sebenarnya adalah dalam hal penamaan. Berdasarkan tataran wilayahnya, reduplikasi digolongkan atas reduplikasi fonologis morfologis, sintaksis, dan semantis. Berdasarkan wujud kata ulangnya, ada kata ulang yang berupa dwilingga, dwilingga salin suara, dwi wasana, dan trilingga. Berdasarkan prosesnya dihasilkan kata ulang penuh, kata ulang parsial, kata ulang berubah bunyi, kata ulang berafiks, dan kata ulang parsial berafiks.

Proses morfologis kata ulang berafiks dapat dibedakan atas dua golongan yaitu

Golongan I : dasar ulang, R, dan afiks secara serentak membentuk kata ulang berafiks: orang-orangan, berpeluk-pelukan, besar-besaran, kekanak-kanakan, dan sebagainya; dan

Golongan II : kata ulang + afiks menghasilkan kata ulang berafiks: bergunung-gunung, berawa-rawa, keramah-ramahan, kekacaubalauan, dan sebagainya.

Kridalaksana menjelaskan proses morfologis kata ulang berafiks atas tiga proses. Ketiga proses morfologis kata ulang berafiks tersebut dapt dilihat kembali pada paparan di atas.

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahasa praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar